CLICK HERE FOR FREE BLOG LAYOUTS, LINK BUTTONS AND MORE! »

Sabtu, 29 Juni 2013

Anfis Reproduksi Pria kel 2



Sistem Reproduksi Manusia
Organ genetalis pada laki-laki dan wanita mempunyai fungsi yang sama, yaitu untuk mempertahankan jenisnya, agar tidak punah di bumi ini. Hanya dalam struturnya organ tersebut yang berlainan. Kelamin laki-laki maupun wanita semenjak lahir sudah ditentukan. Tetapi sifat-sifat kelamin belum dapat dikenal, sel reproduksi berkembang di sebelah depan ginjal yang tumbuh sebagai koloni-koloni sel kemudian membentuk kelenjar reproduksi. Perkembangan sifat terjadi pada umur 10-14 tahun. (Waluyo, 2006: 317-318)
           
Diferensiasi Seks Fenotip
Genitalia Interna
Genitalia pria dan wanita berkembang dari sistem saluran yang berbeda. Perkembangan struktur-struktur ini terjadi bersamaan dan memiliki kedekatan fisik dengan perkembangan sistem urinarius.Keduanya mulai terjadi sekitar minggu ke-4 masa embrio (minggu ke-6 siklus menstruasi). Ginjal primordial (mesonefros) terdiri dari tubulus dan duktusd yang dikenal sebagia duktus mesonefrik atau Wolffi. Duktus Wolffi berasal  dari tubulus yang akan menjadi sinus urogenital. Tubulus mesonefrik berhubungan dengan korda seks primitif saat gonad mulai berdeferensiasi.  Secara simultan epitel  selom yang berada di tepi dekat lateral rigi mesonefrik membentuk duktus paramesonefrik atau Mullerii. Saat proses perkembangan ginjal berlanjut  struktur mesonefrik akan bergabung menjadi saluran reproduksi dan kehilangan fungsi urinariusnya. Duktus Wolffi dan Mullerii masing-masing merupakan asal-usul untuk organ-organ reproduksi interna pad wanita dan pria. Sistem duktus lain yang berbeda akan menghilang saat usia janin 3 bulan.
Pada embriopria normal, sekresi peptida yang dikenal dengan Mullerian-inhibiting subtance (MIS) terjadi di bawah pengaruh SRY. MIS disekresi oleh sel yang akan menjadi sel sertoli pada testis dewasa. Hal ini akan menyebabkan duktus Mulleri berdegenerasi. Testosteron diproduksi  oleh sel testis yang nantinya akan menjadi sel Leydig pada orang dewasa. Testosteron mempengaruhi perkembangan sistem Duktus Wollfii untuk membentuk epididimis, vas deferens, dan vesikula seminalis. Tidak seperti pada orang dewasa, produksi testosteron oleh testis embrio tidak dikontrol oleh sistem hipotalamus-hipofisis, namun hormon plasenta, yaitugonadotropin korionik manusia (Hcg .
Tidak ada MIS pada embrio wanita menyebabkan Sistem Mullerii menetap. Untuk mencapai sistem urogenital , Duktus Mulleri menginduksi pembentukan lempeng vagina. Hubungan antara duktus Mulleriidengan lempeng vagina juga menginisiasi penyatuan duktus-duktus untuk membentuk badan uterus. Duktus Mullerii akan membentuk tuba fallopi, uterus,dan sepertiga bagian atas vagina. Kegagalan perkembangan dan penyatuan duktus Mulleriidapat menyebabkan kelainan uterus dan serviks.
Sebagian kelenjar prostat berkembang dari daerah primodial yang sama dari sinus urogenital yang membentuk lempeng vagina pada wanita, menyebabkan prostat homolog dengan vagina bagian atas. Dibawah pengaruh dihidrotestosteron (DHT), mesenkinpada jaringan ini berdeferensiasi menjadi zona perifer prostat. Jaringan yang berlebih di daerah sentral, yang mungkin merupakan turunan Wollfii, membentuk zona sentral dan transisional prostat.

Genetalia Eksterna
Seperti Gonad Primordial, tunas genetalia eksterna memiliki sifat bipotensial. Pada minggu ke-8 masa embrio, celah urogenital,tuberkulum genital, dua lipatan genitalia lateral, dan dua pembengkakan labioskrotal merupakan prekursos terbentuknya genitalia eksterna. Deferesiensi sistem duktus Wollfii interna tergantung pada testosteron, sedangakan struktur genitalia eksterna primodial  DHT untuk berdeferensiasi menjadi struktur genitalia pria yang dapat dikenali. Sumber DHT adalah testosteron testis yang kemudian dikonversi secar lokal menjadi DHT pada genitalia eksterna primodial. Denganadanya DHT, lobus kelenjar prostat berkembang ke arah luar dari kolikulus seminalis dima uretra keluar dari kandung kemih. Lipatan genitalia menyatu untuk membentuk penis  di sekeliling panjang uretra. Pembengkakan labioskrotal membesar dan bergabung membentuk skrotum.
Turunya testis dari abdomen ke dalam skrotum merupakan peristiwa yang bergantung pada androgen, dimana testi ditarik ke bawah oleh tali fibrosa ked dalam skrotum yang sedang berkembang-gubernakulum. Selama perkembangan, lipatan peritoneal di sekeliling duktus Wollfii dan Mulleri (yang nantinya akan menjadi tunika vaginalis) berhubungan dengan pembengkakan genitalia, dan gubernakulum membentuk rigi di bawah peritoneum. Guberbnakulum yang menghubungkan testis dengan pembengkakan genitalia tidak berkembang secepat sisa embrio, sehingga masing-masing testis secra progesif ditarik ke bawah ke arah skrotum  yang sedang berkembang. Testis berada sedikit di atas cincin inguinal sampai 3 bulan terakhir masa kehamilan, setelah itu testis secara lengkap turun melalui kanalis inguinalis ke dalam skrotum. Setelah testis turun secara sempurna , kanalis inguinalis turun untuk mencegah isi abdomen mengalami herniasi ke dalam skrotum. Penurunan testis membutuhkan hormon gonadotropin janin.
Pada wanita, lipatan pada celah urogenital  tetap terbuka. Aspek posterior sinusurogenital membentuk dua pertiga  bagian bawah vagina , sedangkan aspek anterior membentuk uretra. Lipatan genitalia lateral membentuk labia minora dan tonjolan labioskrotal membentuk labia mayora. Klitoris terbentuk di atas uretra. Gubernakulum yang erbentuk di antar tepi Duktus Mullerii dan ovarium mencapai kornu uterus saat berdefernsiasi. Gubernakulum pada wanita menjadi ovarium dan ligamentum rotundum. Diferensiasi fenotipe wanita terjadi pada keadaan tidak terdapatnya androgen dan tidak bergantung pada ovarium.
Pajanan terhadap androgen spesifik yang dimulai pada kehamilan minggu ke-5 masa embrio (minggu ke-7 siklus menstruasi) sangat penting untuk perkembangan fenotipe pria pada bayi baru lahir. Janin yang terpajan pada DHT endogen dan eksogen pada saat ini akan mengalami diferensiasi pria, tanpa memperhatikan seks genetik atau gonad. Tidak adanya aktivitas androgen akan menghasilkan fenotipe wanita. 
Anatomi Sistem Reproduksi Laki-laki
Organ reproduksi laki-laki dibagi menjadi 2 bagian, yaitu alat kelamin dalam dan alat kelamin luar.
 Organ Reproduksi Dalam
Organ reproduksi dalam laki-laki terdiri atas testis, saluran reproduksi dan kelenjar kelamin.

a. Testis
          Testis adalah badan berbentuk oval, setiap testis disokong oleh funikulus spematikus pada pertengahan skrotum.
Tunica albuginea adalah kapsula fibrosa testis. Tunica vaginalis adalah lapisan ganda, dengan rongga potensial diantara kedua lapisan tersebut, yang mengelilingi testis kecuali bagian posterior.
Struktur :
a.                   Setiap testis dibagi oleh septa menjadi 200-300 lobulus. Setiap lobulus mengandung 1-3 tubulus seminiferus.
b.                  Tubulus semineferus adalah tubulus yang berkelok-kelok, sampai sepanjang 70 cm.
c.                   Spermatozoa dihasilkan setelah pubertas oleh sel-sel tubulus semineferus.
d.                  Pada bagainbelakang testis, tubulus semineferus bermuaranya ke dalam sekitar 12 ductus efferentes, yang menembus tunica albuginea dan memebentuk caput epididimis.
e.                   Sel-sel interstitial, yang memproduksi hormon pria, terletak di antara tubulus.
v    Suplai Darah
Setiap arteri testicularis keluar dari aorta abdominalis tepat di bawah asal arteria renalis, berjalan di bagian depan dinding belakang abdomen, dan mencapai testis dan epididimis dengan melewati funiculus spermaticus.
v    Drainase Vena
Darah sari testis lewat ke dalam pleksus pampiniformis vena-vena funiculuc spermaticus. Pleksus ini mengalirkan darah ke dalam vena tunggal, yang berjalan ke atas bagian belakang abdomen. Vena testicularis dextra memasuki vena cava inferior. Vena testicularis sisnistra memasuki vena renalis sinistra.
v    Inervasi
Saraf simpatis melewati testis di atas arteria testicularis.
v    Gambaran Klinis
Hidrokel adalah pengumpulan cairan di dalam kantong tunica vaginalis.
Spermatozoza dibentuk setelah pubertas di dalam sel yang membentuk dindidng tubulus semineferus dan berjalan di sepanjang tubulus ke dalam ductus efferentes dan ke dalam epididimis.
Testosteron, hormon pria, dihasilkan di dalam sel interstitial testis sejak pubertas. (Gibson, 2002 : 332- 334)
b. Saluran pengeluaran
Saluran pengeluaran dalam organ reproduksi dalam laki-laki terdiri dari epididimis, vas deferens, saluran ejakulasi dan uretra.
v    Epididimis merupakan organ pengumpul yang melekat pada bagain belkang testis. Organ ini memiliki caput (yang terdiri dari tubulus efferen yang berasal dari testis), corpus, dan cauda (terdiri dari tabung tunggal tempat duktus berjalan). (Gibson, 2002 : 334)
v    Vas deferens merupakan tabung berdinding tebal. Dimulai pada ujung bawah epididimis yang merupaka sambungan  dari salurannya, berjalan ke arah atas di belakang epididimis, melalui canalis inguinalis, memasuki pelvis, dan berjalan di bagian belakang kandung kemih, tempat saluran tersebut terletak di sebelah medial vesicular seminalis pada sisi yang sama. (Gibson, 2002 : 334)
v    Ductus ejaculatoris merupakan saluran yang sama untuk vas deferens dan vesicular seminalis. Saluran ini berjalan melalui kelenjar prostat bermuara ke dalam uretra pars prostatica. (Gibson, 2002 : 335)
v    Uretra merupakan saluran akhir reproduksi yang terdapat di dalam penis. Uretra berfungsi sebagai saluran kelamin yang berasal dari kantung semen dan saluran untuk membuang urin dari kantung kemih.
c. Kelenjar kelamin
Kumpulan kelenjar kelamin terdiri dari vesikula seminalis, prostate, dan kelenjar bulbouretralis. Sebelum ejakulasi, kelenjar tersebut mensekresikan mucus bening yang menetralkan setiap urine asam yang masih tersisa dalam uretra.
Sel-sel sperma dapat bergerak dan mungkin aktif mengadakan metabolisme setelah mengadakan kontak dengan plasma semen. Plasma semen mempunyai dua fungsi utama yaitu: berfungsi sebagai media pelarut dan sebagai pengaktif bagi sperma yang mula-mula tidak dapat bergerak serta melengkapi sel-sel dengan substrat yang kaya akan elektrolit (natrium dan kalium klorida), nitrogen, asam sitrat, fruktosa, asam askorbat, inositol, fosfatase sera ergonin, dan sedikit vitamin-vitamin serta enzim-enzim. Kelenjar aksesoris terdiri dari:
v    Vesikula seminalis merupakan pembuluh darah yang dibentuk oleh tabung bersakulasi yang berkelok-kelok, terletak pada setiap sisi, pada bagain belakang kandung kemih. (Gibson, 2002 : 335)
v    Kelenjar prostat berbentuk dan berukuran hamper sama dengan horse chestnut. Kelenjar ini mengelilingi bagian pertama uretra. Kelenjar ini terletak dibawah kandung kemih, dibelakang simfisis penis, di depan rectum. Dilewati oleh uretra dan duktus ejakulatorius. Terdiri dari sejumlah kelenjar tubulus dan jaringan fibromuskular, seluruhnya dibungkus di dalam kapsul.
-                      Gambaran klinis
Kelenjar dapat terasa sebagai objek yang keras dan licin melalui pemeriksaan rectal. Pembesaran kelenjar sering terjadi pada usia lima puluh dan dapat menyebabkan obstruksi pada mikturisis dengan menjepit uretra.  Kanker kelenjar menyebabkan obstruksi yang sama dan dapat menyebar ke organ dan jaringan lain. (Gibson, 2002 : 335)
v    Kelenjar bulbouretra adalah sepasang kelenjar kecil yang terletak disepanjang uretra, dibawah prostat. Kelenjar Cowper (kelenjar bulbouretra) merupakan kelenjar yang salurannya langsung menuju uretra. Kelenjar Cowper menghasilkan getah yang bersifat alkali (basa).

Organ Reproduksi Luar
a.    Penis
Penis terdiri dari tiga badan silinder (corpora cavernosa dextra, corpora cavernosa sinistra, dan corpus spongioum di bagain sentral). Di bagian belakang melekat dengan bagian samping os pubis dan pada perineum.
Glans penis adalah pembesaran jaringan tempat corpus spongioum membesar pada ujung penis. Bagain ini dibungkus oleh prepusium.
Uretra memasuki corpus spongioum di bagian posterior, berjalan di sepanjang corpus spongioum dan bermuara pada mestus uretra eksterna pada ujung glans penis.
v    Komposisi :
Corpora cavernosa dan corpus spongioum disusun oleh jaringan seperti spons, yang dibentuk oleh jaringan ikat da otot polos. Jaringan ini dibungkus oleh ruang vaskuler yang dapat berdilatasi.
v    Gambaran klinis :
Sirkumsisi adalah pembuanagn preputium. Spermatozoa dibentuk di dalam tubulus semineferus dan mengalir menuju epididimis dan sepnajng vas deferens. Vesicular seminalis tidak menyimpan spermatozoa, tetapi memproduksi sebagian cairan yang menyangkut spermatozoa, tetapi memproduksi sebagian cairan yang mengangkut spermatozoa. Kelenjar prostat menghasilkan cairan yang serupa.
Di bawah pengaruh rangsangan seksual, impula berjalan di sepanjang saraf parasimpatis menuju arteriol penis. Arteriol berdilatasi dan ruang vaskuler penis terbendung dengan darah dan penis membesar dan menjadi kaku dan ereksi. Dengan demikian hubungan seksual dapat dilakukan. Saat ejakulasi semen, terdidri dari sperma dalam cairan yang dihasilkan oleh vesicular seminalis dan kelenjar prostat, dikeluarkan melalui uretra. (Gibson, 2002 : 335 – 337)
b.    Skrotum
                

Skrotum adalah kantung (terdiri dari kulit dan otot) yang membungkus testis atau buah zakar. Skrotum terletak di antara penis dan anus serta di depan perineum. Pada wanita, bagian ini serupa dengan labia mayora. Skrotum berjumlah sepasang, yaitu skrotum kanan dan skrotum kiri. Di antara skrotum kanan dan skrotum kiri dibatasi oleh sekat yang berupa jaringan ikat dan otot polos (otot dartos). Otot dartos berfungsi untuk menggerakan skrotum sehingga dapat mengerut dan mengendur. Di dalam skrotum juga tedapat serat-serat otot yang berasal dari penerusan otot lurik dinding perut yang disebut otot kremaster. Pada skrotum manusia dan beberapa mamalia bisa terdapat rambut pubis. Rambut pubis mulai tumbuh sejak masa pubertas.
Fisiologi Sistem Reproduksi Laki-laki
Komponen Sistem Reproduksi Laki-laki dan Fungsinya
Komponen Sistem Reproduksi Laki-Laki
Fungsi
Organ Reproduksi Dalam :

  • Testis
  • Menghasilkan sperma
  • Mengeluarkan testosterone
  • Tempat terbentuknya sperma
  • Epididimis
  • Tempat keluar  sperma dari testis
  • Tempat pematangan motilitas dan fertilitas sperma
  • Memproduksi cairan yang banyak mengandung enzim dan gizi mematangkan bentuk sperma
  • Duktus Deferens
·         Berfungsi untuk menyalurkan sperma dari epididimis ke vasika seminalis
·         Tempat penyimpanan sebagian dari sperma sebelum dikeluarkan
  • Vesikula Seminalis
  • Penghasil fruktosa untuk makanan sperma
  • Penghasil prostaglandin
  • Berfungsi untuk mengeluarkan cairan alkalis (sedikit basa), mengandung fruktosa dan zat gizi yang merupakan sumber energi bagi spermatozoa. Sperma segar, kuat dan mudah bergerak dalam mencapai ovum
  • Berfungsi sebagai tempat penyimpanan spermatozoa sebelum dikeluarkan melalui kegiatan seksual
  • Menghasilkan cairan yang disebut semen untuk cairan yang pelindung spermatozoa.
  • Kelenjar Prostat
  • Memicu pembekuan semen untuk menjaga sperma tetap berada di dalam vagina saat penis dikeluarkan
  • Mengeluarkan cairan alkalis encer berwarna seperti susu, mengandung asam sitrat, kalsium dan beberapa zat lain
  • Cairan prostate akan dipancarkan menambah cairan yang dikeluarkan dari vasika seminalis
  • Cairan prostate sangat baik untuk fertilisasi dan mortalitas sperma, dan menetralkan keasaman cairan lain yang menghambat fertilisasi
  • Kelenjar Bulbouretra


  • Mengeluarkan mucus untuk pelumas
  • Mensekresi cairan yang membantu agar sperma lebih tahan hidup
  • Lebih memungkinkan sperma bergerak dan memudahkan pembuahan
Organ reproduksi Luar :

·                                 Penis
Berfungsi sebagai alat kopulasi (persetubuhan)
·                                 Skrotum
Untuk memberikan kepada testis suatu lingkungan yang memiliki suhu 1-8oC lebih dingin dibandingkan temperature rongga tubuh.



Hormon Pada Sistem Reproduksi Laki-laki
v    Kimia dan Biosintesis Testosteron
Sekresi Testoteron oleh Sel Interstisial Testis. Testis mensekresikan beberapa hormon seks pria yang bersama-sama dinamai androgen. Tetapi, salah diantaranya, testoteron, jauh lebih banyak dan kuat dari pada lainnya serta dapat dianggap merupakan satu hormone bermakna yang bertanggung jawab akan efek hormonal pria.
Testosteron, hormon utama testis, adalah suatu steroid C19 dengan sebuah gugus –OH. Hormon ini disintesis dari koleterol di sel-sel Leydig dan juga terbentuk dari androstenedion yang disekresikan oleh korteks adrenal. Menurut konsep yang sekarang dianut, jalur biosintetik pada semua organ endokrin yang membentuk hormone steroid serupa, organ-organ hanya berbeda dalam system enzim yang dikandungnya. Di sel Leydig 11-dan 21-hidroksilase yang dijumpai di korteks adrenal tidak terdapat, tetapi dimungkinkan 17α–hidroksilase. Dengan demikian pregnenolon mengalami hidroksilasi di posisi 17 untuk membentuk dehidroepiandrosteron. Androstenedin juga terbentuk melalui progesteron dan 17–hidroksiprogesteron, tetapi jalur ini kurang menonjol pada manusia. Dehidroepiandrosteron dan androstenedin kemudian diubah menjadi testosteron.
Sekresi testosteron berada di bawah control LH, dan mekanisme bagaimana LH merangsang sel Leydig adalah melalui peningkatan pembentukan AMP siklik melalui reseptor serpentine LH dan Gs. AMP siklik meningkatkan pembentukan kolesterol dan perubahan kolesterol menjadi pregenolon melalui pengaktifan protein kinase A.
Sekresi
Kecepatan sekersi testosteron adalah 4-9 mg/hari (13,9-31,2 nmol/hari) pada pria deasa normal. Sejumlah kecil testosteron juga disekeresikan pada wanita, mungkin berasal dari ovarium tetapi dapat juga dari adrenal.
Transpor dan Metabolisme
Metabolisme testoteron. Setelah disekresi oleh testis, sebagian besar testosterone berikatan longgar dengan dengan protein plasma, beredar dalam darah tidak lebih dari 15-30 menit sebelum ia diikat pada jaringan atau didegradasi menjadi bentuk tak aktiv dan kemudian disekresi
Sebagian testoteron yang terikat pada jaringan diubah dalam sel menjadi dihidrotestostero ; dalam bentuk ini testosterone melakukan banyak fungsi intraselnya.
Degradasi dan ekskresi testosterone. Testosterone yang tidak terikat pada jaringan akan dengan cepat diubah terutama oleh hati, menjadi androsteron dan dehidroepiandosteron  dengan serentak berkonyugasi sebagai glukuronida atau sulfat (khususnya glukuronida). Konjugasi ini diekskresi dalam usus melalui empedu atau ke dalam urina.
Fungsi Testosteron
Pada umumnya, testosterone bertanggungjawab untuk membedakan sifat maskulinisasi tubuh. Testis dirangsang oleh gonadotropin karionik plaseta untuk menghasiklan sedikit testosterone waktu kehidupan fetal, tapi pada hakekatnya, tidak ada testosterone yang dihasilkan waktu anak-anak sampai umur kira-kira 10-13 tahun.kemudian pembentukan testosterone meningkat cepat pada permulaan pubertas dan berlangsung hamper seluruh kehidupan, berkurang cepat sekitar  setelah usia 40 tahun sampai mungki9n menjadi satu perlima nilai puncak menjelang 80 tahun.
Fungsi testosterone waktu perkembangan fetus. Testosterone mulai dikeluarkan oleh pria sekitar bulan kedua kehidupan embrional. Tentu saja ahli embriologi yakin bahwa perbedaan funfsional utama antara kromosom seks pria dan wanita adalah bahwa kromosom pria menyebabkan rigi-rigi genital yang baru berkembang mengsekresi testosterone, sedangkan kromosom wanita menyebabkan rigi-rigi ini mengsekresi estrogen.penyuntikan hormone seks pria dalam jumlah besar ke binatang yang hamil menyebabkan perkembangan organ seks jantan walaupun fetus tersebut betina. Juga pembuangan testis fetus pada fetus jantan menyebabkan perkembangan organ seks betina.oleh karena itu ada atau tidak adanya testosterone pada fetus merpakan factor yang menentukan perkembangan sifat dan organ genitalia pria atau wanita.yaitu testosterone yang disekresi oleh ridge genitalia dan perkembangan selanjutnya testis bertanggungjawab akan perkembangan sifat kelamin pria, termasuk pertumbuhan penis dan skrotum bukan pembentukan klitoris dan vagina. Juga, testosterone menyebabkan perkembangan kelenjar prostate, vesika seminalis, dan saluran genital pria, sedangkan pada saat yang sama menekan pembentukan organ genitalia wanita.
Efek pada desensus testis. Testis biasanya mengalami densesus masuk skrotum selama dua bulan terakhir kehamilan, waktu testis menyekresi testosteron dalam jumlah yang cukup. Bila anak lelaki dilahirkan dengan testis yang tidak mengalami desensus, pemberian testoteron menyebabkan testis mengalami desensus dengan cara yang biasa bila kanalis inguinalis cukup besar untuk dilalui testis. Atau, pemberian hormon gonadotropin, yang merangtsang sel intersial testis menghasilkan testoteron, juga myebabkan desensus testis. Jadi rangsangan untuk desensus testis adalah testoteron, menunjukan sekali lagi bahwa testoteron mungkin merupakan hormone yang penting untuk perkembangan seks pria selama kehidupan fetal.
Efek Testoteron pada Perkembangan Sifat Seksual Primer dan Sekunder Dewasa. Sekresi testoteron setelah pubertas menyebabkan penis, skrotum dan testis semuanya membesar beberapa kali sampai sekitar usia 20 tahun. Selain itu testoteron menyebabkann “ sifat seksual sekunder “ pria berkembang pada saat yang sama, mulai pada pubertas dan berakhir waktu dewasa. Sifat seksual sekunder ini, selain organ seksual itu sendiri, membedakan pria dan wanita sebagai berikut :
Distribusi Rambut Tubuh. Testoteron menyebabkan pertumbuhan rambut :
(1) di atas pubis,
(2) pada wajah,
(3) biasanya pada dada dan
(4) lebih jarang pada daerah tubuh lain, seperti punggung
(5) Testoteron juga menyebabkan rambut pada sel bagian besar tubuh lain menjadi lebih subur
Botak. Testoteron mengurangi pertumbuhan rambut pada puncak kepala; pria yang tidak mempunyai testis yang berfungsi tidak menjadi botak. Akan tetapi, banyak pria virilisme tidak pernah botak, karena botak merupakan akibat dari dua factor: pertama, dasar genetikperkembangan botak dan kedua, tumpang tindih pada dasar genetic ini, jumlah hormone androgen yang banyak. Wanita yang mempunyai dasar genetic yang cocok dan yang menderita tumor androgenic yang berlangsung lama menjadi botak dengan cara yang sama seperti pria.
Efek pada Suara. Testoteron yang disekresi testis atau yang disuntikan pada tubuh menyebabkan hipertrofi mukosa laring dan pembesaran laring. Efek ini menyebabkan mula – mula suara menjadi relative sumbang seperti “ pecah “, tetapi hal ini lambat laun berubah menjadi suara bass yang khas untuk pria.
Efek pada Kulit. Testoteron meningkatkan tebal kulit pada seluruh tubuh dan menignkatkan kekasaran jaringan sub kutis.
Efek pada Pembentukan Protein dan Perkembangan Otot. Salah satu sifat pria yang terpenting adalah perkembangan peningkatan otot setelah pubertas. Hal ini dihubungkan dengan peningkatan protein pada bagian tubuh lainnya. Banyak perubahan pada kulit juga disebabkan karena pengendapan protein pada kulit, dan perubahan pada suara mungkin sekurang – kurangnya sebagian, akibat fungsi anabolic protein dari testoteron.
Testoteron sering dianggap merupakan “ hormone remaja “ karena efeknya pada otot – otot, dan kadang – kadang digunakan untuk pengobatan pada orang yang perkembangan ototnya jelek.
Efek pada Pertumbuhan Tulang dan Retensi Kalsium. Setelah pubeertas atau setelah penyuntikan testosteron jangka lama, tulang tumbuh sangat tebal dan juga mengendapkan banyak garam – garam kalsium. Jadi testosterone meningkatkan jumlah total matriks tulang, dan juga menyebabkan retensi kalsium. Peningkatan matriks tulang diduga akibat dari fungsi anabolic umum testosteron pada protein.
Bila testosterone (atau androgen lain ) disekresi dalam jumlah besarpada anak yang sedang tumbuh, kecepatan pertumbuhan tulang meningkat nyata, menyebabkan percepatan peertumbuhan tubuh seluruhnya juga. Akan tetapi, testoteron juga menyebabkan epifisis tulang bersatu dengan batang tulang dengan usia yang lebih muda. Oleh karena itu, walaupun peertumbuhan cepat, persatuan epifisis ini mencegah orang tumbuh setinggi seperti pertumbuhan yang akan terjadi bila testosterone tidak disekresi sama sekali. Meskipun pada pria normal,  tinggi dewasa akhir sedikit kurang daripada yang diperoleh seseorang yang telah dilakukan kastrasi sebelum pubertas.
Efek pada Sel Darah Merah. Rata – rata pria mempunyai 700.000 sel darah merah per milliliter kubik daripada rata – rata wanita. Akan tetapi, perbedaan ini mungkin sebagian akibat peningkatan laju metabolisme setelah pemberian testosterone bukan efek langsung testosterone pada pembentukan sel darah merah.
Sembilan puluh delapan persen testosteron dalam plasma terikat ke protein: 65% terikat ke-β-globulin yang disebut gonadal steroid-binding globulin (GBG) atau corticosteroid-binding globulin, dan 33% ke albumin.
v    Distribusi steroid dan kortisol gonad dalam plasma

Steroid
% Bebas
% Terikat
CBG
GBG
ALBUMIN
Testosteron
Androstenedion
Estradiol
Progesteron
Kortisol
2
7
2
2
4
0
0
0
18
90
65
8
38
0
0
33
85
60
80
6
TABEL.CBG, corticosteroid-blinding globulin. GBG, gonadal steroid binding globulin
GBG juga mengikat estradiol. Kadar testosteron plasma (bebas dan terikat) adalah sekitar 525 ng/dL (18,2 nmol/L) pada pria dewasa dan 30 ng/dL (1,0 nmol/L) paad wanita dewasa. Kadar ini sedikit menurun seiring pertambahan usia pada pria.
Sejumlah kecil testosteron dalam darah diubah menjadi estrogen di suatu tempat di tubuh, tetapi sebagian besar diubah menjadi 17-ketosteroid dan diekskresikan di urin. Sekitar 2 pertiga 17-ketosteroid urin berasal dari adrenal, dan sepertiga testis. Walaupun sebagian besar 17-ketosteroid merupakan androgen lemah (memiliki potensi testosteron sebesar 20% atau kurang), perlu ditekankan bahwa tidak semua 17-ketosteroid adalah androgen dan tidak semua androgen adalah 17-ketosteroid. Etiokulanolon, misalnya, tidak memiliki aktivitas androgenik, dan testosteron itu sendiri bukan suatu 17-ketosteroid.
Efek
Selain efeknya selama perkembangan, testosteron dan androgen lain memiliki efek umpan balik inhibitorik pada sekresi Lh hipofisis; membentuk dan mempertahankan karakteristik seks sekunder pria; serta memiliki efek mendorong pertumbuhan serta anabolik-protein yang penting. Bersama FSH, testosteron berperan mempertahankan kelangsungan gametogenesis.
Mekanisme Kerja
Seperti steroid lainnya, testosteron berikatan dengan suatu reseptor intrasel, dan kompleks steroid-reseptor kemudian berikatan dengan DNA di nukleus, menyebakan transkripsi berbagai gen. selain itu, testosteron diubah menjadi dihidrotestosteron (DHT) oleh 5α–reduktase di beberapa jaringan sasaran, dan DHT berikatan dengan reseptor intrasel yang sama seperti testosteron. DHT juga bersirkulasi, dengan kadar plasma sekitar 10% testosteron. Kompleks testosteron-reseptor kurang stabil dibandingkan dengan kompleks DHT-reseptor di sel sasaran, dan transformasi kompleks tersebut ke DNA sel kurang sempurna. Dengan demikian, pembentukan DHT adlah salah satu cara untuk meningkatkan efek testosteron di jaringan sasaran.
Kompleks testosteron-reseptor berperan dalam pematangan struktur-struktur duktus wolffian, dengan demikian, bertanggung jawab terhadap pembentukan genitalia interna pria selama perkembangan, tetapi kompleks DHT-reseptor diperlukan untuk membentuk genitalia eksterna pria. Kompleks DHT-resptor juga erperan dalam pembesaran prostat dan mungkin penis pada saat pubertas serta rambut wajah, jerawat, dan pengunduran temporal gais rambut. Di pihak lain, peningkatan masa otot dan munculnya doongan seks dan libido pria lebih tergantung pada testosteron daripada DHT.
Defisiensi 5α–reduktase kongenital, yang sering dijumpai di daerah-daerah tertentu Republik Dominika, menimbulkantipe pseudohermafroditisme pria yang menarik. Orang-orang dengan sindrom ini lahir dengan genitalian interna pria termasuk testis, tetapi genitalia eksternanya wanita dan biasanya dibesarkan sebagai wanita. Namun, saat mereka mencapai pubertas, sekresi LH dan kadar testosteron dalam darah meningkaat. Akibatnya, mereka membentuk kontur tubuh pria dan memiliki libido pria. Pada tahap ini mereka biasanya mengubah identitas jenis kelamin dan “menjadi pemuda”. Mereka mengalami pertumbuhan rambut wajah atau kebotakan, tetapi klitoris membesar (”penis-at-12-syndrome”) sampai sebagian dari mereka dapat berhubungan kelamin dengan wanita. Pembesaran ini mungkin terjadi karena dengan tingginga LH, tersedia testosteron dalam jumlah cukup untuk mengatasi kebutuhan akan amplifikasi DHT di genitalia, dan mungkin Karena testosteron kadar tinggi menginduksi peningkatan  5α–reduktase. Sekarang telah dibuktikan bahwa terdapat 2 5α–reduktase yang berlainan : 5α–reduktase 1, yang normal pada sindrom ini dan 5α–reduktase 2, yang tidak dijumpai karena defek atau delesi pada gen yang mengkode enzim tersebut.
Pembentukan estrogen oleh Testis
Lebih 80% esradiol dan 95% estron dalam plama dewasa dibentuk melalui aromatisasi testosterone dan androstenedion dalam darah. Sisanya berasal dari testis. Sebagain estradiol di darah vena testis berasal dari sel Leydig, tetapi sebagian juga dibentuk melalui aromatisasi androgen sis el Sertoli. Pada pria, kadar estradiol plasma adalah sekitar 2ng/dL (70pmol/L) dan kecepatan produksi total adalah 0,05 mg/hari (0,18 µmol/hari). Berlainan dengan keadaan pada wanita, pada pria terjadi peningkatan sedang produksi estrogen seiring dengan pertambahan usia.
Kontrol Fungsi Testis
FSH bersifat tropic bagi sel Sertoli, dan FSH serta androgen mempertahankan fungsi gametogenik testis. FSH juga merangsang sekresi inhibin. Inhibin memberi umpan balik untuk mengahambat sekresi FSH. LH bersufat tropik bagi sel Leydig dan merangsang sekresi testosterone, yang selanjutnya member umpan balik untuk menghambat sekresi LH. Lesi hipotalamus pada hewan dan penyakit hipotalamus pada manusia menyebabkan atrofi dan hilangnya fungsi testis.
Inhibin
Testosteron menurunkan LH plasma, tetapi kecuali pada dosis besar, hormon ini tidak memiliki efek pada FSH plasma. Pada pasien yang mengalami atrofi tubulus seminiferus tetapi kadar testosteron dan eksresi Lh normal, kadar FSH plasma meningkat. Pengamatn ini menyebabkan ditemukannya inhibin, suatu faktor yang berasal dari testis dan menghambat sekresi FSH. Terdapat 2 jenis inhibin dalam ekstrak testis pada pria dan dan dalam cairan antral dari folikel ovarium pada wanita. Keduanya dibentuk dari 3 subunit polipeptida : sebuah sub unit α terglikolisasi, βA dan βB, masing-masing dengan berat molekul 14.000. subunit-subunit tersebut terbentuk dari protein precursor. Subunit α bergabung dengan βA untuk membentuk sebuah heterodimer dan dengan βB untuk membentuk heterodimer yang lain, dengan ikatan disulfide menghubungkan subunit-subunit tersebut. Baik αβA (inhibin A) maupun αβB (inhibin B) menghambat sekresi FSH melalui efek langsung pada hipofisis. Inhibin dibentuk oleh sel Sertoli pada pria dan sel granulosa pada wanita.
Heterodimer βAβB serta homodimer βAβB dan βAβB juga terbentuk. Dimer-diemr ini merangsang, bukan menghambat sekresi FSH dan dengan demikian disebut aktivin. Fungsinya dalam reproduksi masih belum dipastikan. Namun, inhibin dan aktivin adalah anggota superfamili TGFβ faktor pertumbuhan dimetrik yang juga mencakup MIS. Telah berhasil diklon dua reseptor aktifin, dan keduanya tampaknya termasuk serinkinase. Inhibin dan aktivin, ditemukan tidak hanya di gonad tetapi juga di otak dan banyak jaringan lain. Di sumsum tulang, aktivin berperan dalam pembentukan sel darah putih. Pada masa kehidupan mudigah, aktivin terlibat dalam pembentukan mesoderm. Semua mencit dengan delesi α–inhibin pada awalnya tumbuh secara normal tetapi kemudian menderita tumor-tumor stroma gonad, sehingga gen α–inhibin adalah suatu gen penekan tumor (tumor suppressor gene).
Dalam plasma, aktivin dan inhibin diikat ole α 2-makroglobulin. Dalam jaringan, aktivin berikatan dengan famili 4 glikoprotein yang disebut folistatin. Pengikatan aktivin membuat aktifitas biologik molekul ini tidak aktif, tetapi kaitan antara folistatin dan inhibin serta fungsi biologiknya masih belum diketahui.
Umpan Balik Steroid
“Hipotesis kerja” yang sekarang berlaku mengenai bagaimana fungsi testis diatur. Katrasi akan diikuti oleh peningkatan isi dan sekresi FSH dan LH dari hipofisis, dan lesi hipotalamus mencegah kenaikan ini. Testosteron menghambat sekresi LH dengan bekerja secara langsung pada hiipofisis anterior dan dengan menghambat sekresi GnRH dari hipotalamus. Inhibin kerja secara langsung pada hipofisis anterior untuk menghambat sekresi FSH.
Sebagai respon terhadap LH, sebagian testosteron yang disekresikan dari sel Leydig membasahi epitel seminiferus dan memberikan sel Sertoli konsentrasi local androgen yang tinggi yang penting untuk spermatogenesis normal. Testosteron yang diberikan sistemis tidak meningkatkan kadar androgen di testis samapi setinggi itu, dan hal ini menghambat sekresi LH. Akibatnya, efek akhir testosteron yang diberikan sistemik secara umum adalah penurunan hitung sperma. Terapi testosteron pernah dianjurkan sebagai salah satu cara kontrasepsi pria. Namun dosis testosteron yang diperlukan untuk menekan spermatogenesis menyebabkan retensi natrium dan air. Sekarang sedang dijajaki kemungkinan penggunaan inhibin sebagai kontarsepsi pria. (Ganong. 1998 : 422 – 425)
Spermatogenesis
Spermatogonia, sel-sel germinativum primitive yang terletak di samping lamina basalis tubulus seminiferus, berkembang menjadi spermatosit primer. Proses ini dimulai pada masa akil baligh. Spermatosit primer mengalami pembelahan meiotik, sehingga jumlah kromosomnya berkurang. Dalam proses 2 tahap ini sel-sel tersebut membelah menjadi spermatosit sekunder lain menjadi spermatid, yang mengandung jumlak kromosom haplod (23). Spermatid berkembang menjadi spermatozoa (sperma). Sewaktu sebuah spermatogonium membelah dan menjadi matang, turunan-turunannya tetap terikat oleh jembatan sitoplasma sampai stadium spermatid lanjut. Hal ini tampaknya memastikan sinkronisasi diferensiasi masing-masing klon sel gerimnativum. Perkiraan jumlah spermatid yang terbentuk dari sebagian spermatogonium adalah 512. Pada manusia, melalui proses spermatogenesis yang teratur ini diperlukan waktu rerata 74 hari untuk membentuk sebuah sperma matang dari sel germinativum primitif.
            Masing-masing sperma adalah seluruh motif ruma, yang kaya DNA, dengan sebuah kepala yang tersusun sebagian besar oleh bahan kromosom. Penutup kepala disebut akrosom, suatu organel mirip lisosom yang kaya enzim-enzim yangbertanggung jawab dalam penetrasi sperma ke ovum dan proses-proses lain yang terjadi selama pembuahan. Bagian proksimal ekor sperma yang motil ditutupi oleh suatu selaput yang berisi banyak mitokondria. Membrane spermatid lanjut dan spermatozoa mengandung enzim pengkonversi angiotensia tipe kecil khusus yang disebut germinalangiotensin-converting enzim, tetapi fungsi enzim ini dalam sperma tidak diketahui.
            Spermatid berkembang menjadi spermatozoa di lipatan-lipatan sitoplasma yang dalam pada sel Sertoli. Spermatozoa matang dlepaskan dari sel Sertoli dan menjadi bebas dalam lumen tubulus. Sel-sel Sertoli mensekresikan protein pengikat androgen (AEP) dan inhibin. Sel-sel ini tidak mensintesis androgen, tetapi mengandung aromatase, enzim yang berperan dalam perubahan androgen menjadi estrogen, dan sel-sel ini dapat menghasilkan estrogen. ABP mungkin berfungsi untuk mempertahankan pasokan androgen yang tinggi dan stabil dalam cairan tubulus. Inhibin menghambat sekresi FSH.
            FSH dan androgen mempertahankan fungsi gametodenik testis. Setelah hipofisektomi, penyuntikan LH menghasilkan konsentrasi androgen local yang tinggi di testis, dan hal ini mempertahankan spermatogenesis. Terdapat beberapa bukti bahwa testosterone berpindah dari vena spermatika menuju arteri spermatika sewaktu kedua pembuluh ini berjalan sejajar satu sama lain di skrotum, sehingga konsentrasi androgen yang tinggi dalam testis dapat dipertahankan. Stadium-stadium spermatogenesia menjadi spermatid tampaknya tidak bergantung pada androgen. Namun, pemtangan dari spematid menjadi spermatozoa bergantung pada androgen yang bekerja pada sel Sertoli tempat terbenamnya spermatozoa yang sedang tumbuh. FSH bekerja pada sel Sertoli untuk memperlancar stadium-stadium akhir pematangan spermatid. Selain itu, FSH mendorong pembentukan ABP.
            Spermatozoa yang meninggalkan testis belum sepenuhnya mampu bergerak. Spermatozoa melanjutkan pematangannya dan memperoleh motilitas sewaktu melintasi epididimis. Terdapat beberapa bukti bahwa motilitas sperma ditingkatkan oleh relaksin, yang mnugkin dihasilkan oleh prostat. Kapasitas sperma melakukan pembuahan juga ditingkatkan bila sperma tersebut berada dalam waktu yang cukup di saluran reproduksi wanita. Proses awal yang terjadi dalam saluran reproduktif wanita disebut kapasitasi. Proses ini menyebabkan sperma lebih mampu melekat ke ovum.
Spermatositogenesis Pembelahan spermatogonia agar tetap tersedia sel yang akan berkembang    menjadi spermatosit primer. (Tahap I )
Meiosis                       Merupakan rangkaian dua peristiwa pembelahan untuk mengurangi jumlah kromosom dari diploid menjadi haploid yang menghasilkan spermatid. (Tahap II)
Spermiogenesis             Merupakan peristiwa perkembangan dan perubahan dari spermatid menjadi spermatozoa yang dilepas kedalam lumen tubulus seminiferus. Saat ini spermatozoa masih non motil. (Tahap III)

Pada tubulus seminiferus terdapat sel epitel germinal yang disebut : Sprematogonia. Spermatogonia ini membelah diri  dan akhirinya membentuk spermatosit primer (pre kursor sperma). Spermatosit primer ini membelah diri membentuk  dua buar spermatosit sekunder yang selanjutnya membelah diri menjadi empat buah spermatid.  Dalam beberapa minggu spermatid ini  berkembang menjadi spermatozoa.  Perubahan spermatid menjadi spermatozoa  dengan cara :
  1. Menghilangkan beberapa sitoplasmanya.
  2. Reorganisasi benda – benda kromatin pada intinya untuk membentuk kepala
  3. Mengumpulkan sisa – sisa sitoplasma dan memberan sel pada salah satu ujung sel untuk membentu ekor.
Pada tahap II spermatogenesis (Meiosis) terjadi pembelahan sel yang spesifik dimana  23 pasang kromososm tidak dibentuk kembali tetapi hanya memisahkan diri . 23 kromosom yang tidak berpasangan ini akan masuk kedalam spermatosit sekunder. Dan Proses ini akan terjadi terus mmenerus. Oleh karena itu setiap spermatid terdiri dari 23 kromosom yang tidak berpasangan, sehingga setiap sperma yang matur hanya membawa kromosom yang tidak berpasangan.
Kromosom Seks
Dalam spermatogonium terdapat 23 pasang kromosom yang mengandung informasi genetic penentu jenis kelamin anak. Pada pasangan ini terdapat satu kromosom X (kromosom wanita) dan satu kromosom Y (kromosom laki – laki) .  Pada proses meiosis, kromosom seks ini membelah diantara spermatosit sekunder, sehingga  setengah setengah dari sperma menjadi sperma pria (kromososm Y) dan setenganya menjadi sperma wanita (Kromosom X). Jenis kelamin Anak akan ditentukan oleh kedua Jenis sperma ini.



 


Efek Suhu
Spermatogenesis memerlukan suhu yang lebih rendah daripada suhu bagian dalam tubuh. Testis dalam keadaan normal memiliki suhu sekitar 320C. testis dipertahankan dingin oleh udara yang mengaliri skrotum dan mungkin oleh pertukaran panas melalui arus balik antara arteri dan vena spermatika.. Bila testis tetap berada di dalam abdomen, atau bila dilakukan pada hewan percobaan, didekatkan tubuh dengan pakaian yang erat, akan terjadi degenerasi dinding tubulus dan sterilitas. Mandi air panas (43-450C selama 30 menit per hari) dan penyokong atletik berinsulasi menrunkan hitung sperma pada manusia, kadang-kadang sebesar 90%. Namun penurunan dengan cara ini tidak cukup konsisten untuk menjadikannya suatu tindakan untuk kontrasepsi pria. Selain itu terdapat bukti yang mengisyaratkan adanya efek musim pada pria, dimana hitung sperma lebih tinggi pada musim dingin berapapun suhu pajanan skrotum.
Sperma
            Cairan  yang diejakulasikan pada saat orgasme, semen mengandung sperma dan sekresi vesikula seminalis, prostat, kelenjar Cowper, dan mungkin kelenjar uretra. Volume rerata per ejakulat adalah 2,5-3,5 mL, setelah beberapa hari tidak dikeluarkan. Volume semen dan hitung sperma menurun dengan cepat bila ejakulasi berulang. Walaupun hanya diperlukan satu sperma untuk membuahi ovum, setiap millimeter semen normal mengandung 100 juta sperma. Lima puluh persen pria dengan hitung sperma 20-40 juta/mL, dan pada dasarnya semua yang hitungnya kurang dari 20 juta/mL adalah gundul. Prostaglandin dalam semen, yang sebenarnya dating dari vesikula seminalis, berkadar tinggi, tetapi fungsi turunan asam lemak ini dalam semen tidak diketahui.
            Sperma manusia bergerak dengan kecepatan sekitar 3 mm/mnt melintas saluran genitalia wanita. Sperma mencapai tube uterine 30-60 menit setelah kopulasi. Pada beberapa spesies, kontraksi irgan wanita mempermudah transport sperma ke tuba uterine, tetapi tidak diketahui apakah kontraksi semacam itu terjadi pada manusia.
           
Komposisi semen manusia
1.                              Warna : Putih, opalosen
2.                              Berat jenis sepsifik : 1,028
3.                              pH : 7,35-7,50
4.                              Hitung sperma : rerata sekitar 100 juta/mL, dengan bentuk abnormal kurang dari 20%
5.                              Komposisi lain :
                         Dari vesikula seminalis (membentuk 60% volume total):
             -   Fruktosa (1,5-6,5 mg/mL)
             -  Fosforilkolin

             -  Ergotionin
             -  Asam askorbat
             -  Flavin
             -  Prostaglandin

             Dari prostat (membentuk 20% volume total):
             -  Spermin
             -  Asam sitrat

             -    Kolesterol, fosfolipid
             -    Fibrinolisin, fibrinogenase
             -    Seng
             -    Fosfatase asam

             Penyangga:
             -  Fosfat
             -  Bikarbonat
             -   Hialuronidasew
(Ganong, 1998 : 418 – 420)
  
Tahap Aktifitas Dan Rangsangan Saraf Seksual Pria
Isyarat saraf terpenting untuk memulai tindak seksual pria berasal dari glans penis, karena glans penis mengandung organ akhir sensoris yang sangat rapi, yang menghantarkan ke susunan saraf pusat suatu modalitas kesan khusus yang dinamakan kesan seksual. Kerja pemijitan glans waktu hubungan kelamin merangsang organ akhir sensorik, dan kesan seksual selanjutnya dihantarkan melalui nervus pundendus, kemudian ke pleksus sakralis masuk bagian sacral medulla spinalis., dan akhirnya berjalan ke atas melalui medulla spinalis menuju ke daerah serebrum yang belum jelas. Impuls juga dapat  masuk   medulla spinalis dari daerah – daerah yang berdekatan dengan penis untuk membantu merangsang tindakan seksual.
Misalnya perangsangan epitel anus, skrotum, dan struktur perineum umumnya semua dapat mengirimkan impuls kedalam medulla spinalis yang menambah kesan seksual. Kesan seksual malahan dapat berasal dari struktur interna, seperti perangsangan daerah uretra, kandung kemih, prostate, vesika seminalis, testis dan vas deferens. Tentu saja salah satu penyebab “ dorongan seksual “ mungkin oleh pengisian berlebihan organ seksual dengan secret. Infeksi dan peradangan organ seksual ini kadang-kadang hampir selalu menyebabkan hasrat seksual yang terus menerus, dan obat “ofrodisiak” seperti kantarid, meningkatkan hasrat seksusl dengan mengiritasi mukosa kandung kemih uratra.
Unsur psikis perangsangan seksual pria. Rangsangan psikis yang sesuai dapat sangat meningkatkan kemampuan seseorang untuk melakukan tindakan seksual. Memikirkan gagasan seksual atau malahan mimpi sedang melakukan hubungan seksual dapat menyebabkan terjadinya tindakan seksual pria dan mencapai puncaknya pada ejakulasi. Tentu saja emisi noturna waktu mimpi terjadi pada banyak pria selama beberapa stadium kehidupan seksual, khususnya selama usia belasan tahun.
Integrasi Tindakan Seksual Pria pada Medulla Spinalis. Walaupun factor psikis biasanya memegang peranan penting pada tindakan seksual pria dan jelas dapat memulainya, serebrum mungkin tidak diperlukan secara absolute untuk pelaksanaannya, karena perangsangan genitalia yang cocok dapat menyebabkan ejakulasi pada beberapa binatang dan kadang-kadang pada manusia yang medula spinalisnya telah dipotong di atas daerah lumbal. Oleh kerena itu, tindakan seksual pria akibat dari mekanisme refleks yang terintegrasi pada daerah sakral dan lumbal medula spinalis, dan mekanisme ini dapat diaktifkan oleh rangsangan psikis atau rangsangan seksual yang sebenarnya.
v    Ereksi
Ereksi diawali oleh dilatasi arteriol-arteriol penis. Sewaktu jaringan erektil penis terisi darah, vena mengalami tekanan dan aliran keluar terhambat sehingga torgor organ bertambah. Pusat-pusat integrasi di segmen lumbal medulla spinalis diaktifkan oleh impuls dalam aferen dari genitalia dan traktus desendens yang memperantarai ereksi sebagai respon terhadao rangsangan psikis erotik. Serat parasimpatis eferen berada dalam saraf splanknik panggul (nervi erigentes). Serat-serat tersebut diperkirakan mengandung asetilkolin dan VIP sebagai kotransmiter. Sebagian serat berakhir secara prasinaptik pada neuron noradrenergic, tempat asetilkolin bekerja pada reseptor muskarinik untuk menurunkan pelepasan vasokonstriktor norepinefrin. Selain itu VIP menimbulkan vasodilatasi. Namun penyuntikan VIP tidak menimbulkan keadaan yang benar-benar seperti ereksi. Juga terdapat serat-serat nonkolinergik nonadrenergik di nervi erigentes, dan serat-serat ini mengandung sejumlah besar NO sintase, enzim yang mengkatalis pembentukan vasodilator kuat nitrat oksida. Penyuntikan inhibitor NO sintase mencegah ereksi yang secara normal timbul setelah rangsangan pada saraf-saraf panggul pada hewan percobaan. Dengan demikian, tampaknya NO adalah suatu mediator ereksi yang penting. Pada keadaan normal,ereksi diakhiri oleh impuls vasokonstriktor simpatis pada arteriol. (Ganong,1998 : 421)
v    Lubrikasi
Selama perangsangan seksual, impuls parasimpatis, selain meningkatkan ereksi, menyebabkan kelenjar Littre dan kelenjar bulbouretralis menyekresi mucus. Jadi, mukus mengalir melalui uretra waktu hubungan kelamin untuk membantu melumasi koitus. Akan tetapi, sebagian besar pelumasan koitus di lakukan oleh organ seksual wanita bukan oleh organ seksual pria. Tanpa pelumasan yang memuaskan, tindakan seksual pria jarang berhasil karena hubungan seksual yang tanpa pelumasan menyebabkan impuls nyeri yang menghambat kesan seksual, bukan meningkatkan kesan seksual.
Terjadinya pelumasan akibat mucus yang dikeluarkan oleh kelenjar urethra dan bulbourethra kedalam vagina, agar memudahkan ketika melakukan hubungan seksual (coitus).
v    Emisi
Emisi dimulai dengan kontraksi vas deferens dan ampula yang menyebabkan keluarnya sperma ke dalam uretra interna. Kemudian, kontraksi otot yang melapisi kelenjar prostat akhirnya diikuti dengan kontraksi vesikula seminalis yang mengeluarkan cairan prostat dan cairan seminal, mendorong sperma lebih jauh. Semua cairan ini bercampur dalam uretra interna dengan mukus yang telah disekresi oleh kelenjar bulbouretratis dan membentuk semen. Proses tersebut adalah emisi.
v    Ejakulasi
Pengisian uretra interna kemudian menimbulkan isyarat yang di hantarkan ke daerah sakral medulla spinalis. Selanjutnya, impuls saraf berirama dikirim dari medula spinalis ke otot-otot rangka yang meliputi basis jaringan erektil, menyebabkan peningkatan tekanan berirama yang seperti gelombang pada jaringantersebut, yang “ mengejakulasikan” semen dari uretra ke luar.
Proses ejakulasi terbagi menjadi 3 macam, yaitu ejakulasi dini ringan, sedang dan berat. Ejakulasi dini ringan berarti ejakulasi terjadi setelah hubungan seksual berlangsung singkat, hanya beberapa kali gesekan. Pada ejakulasi dini sedang, ejakulasi terjadi setelah terjadi masuknya penis ke dalam vagina. Sedang pada ejakulasi dini berat, hubungan seksual tidak sempat berlangsung karena ejakulasi terjadi sebelum berlangsung penis masuk ke dalam vagina. Ejakulasi terjadi begitu penis menyentuh kelamin wanita bagian luar. Bahkan sebagian kecil laki-laki dengan ejakulasi dini berat sudah mengalami ejakulasi sebelum penisnya menyentuh kelamin wanita bagian luar. (http://www.seksehat.info/kesehatan-reproduksi/mengenali-ejakulasi-dini-dan-cara-pengobatannya.html).
Ada beberapa teori penyebab ejakulasi dini:
·                     Ejakulasi dini dapat disebabkan oleh adanya suatu gangguan yang bersifat psikofisiologik. Ada beberapa masalah yang melatar belakangi terjadinya ejakulasi dini, yaitu hubungan suami istri yang tidak harmonis, perasaan tidak senang terhadap pasangannya, dan rasa takut terhadap wanita.
·                     Kecemasan juga berperan penting dalam proses ejakulasi dini karena masalah tersebut seringkali merupakan bagian dari situasi dan hampir semua penderita dapat mengendalikan ejakulasi selama masturbasi. Hubungan seksual terlarang dan takut diketahui orang lain mendorong timbulnya kecemasan. Adanya ketidakpuasan partner seksual juga akan menambah kecemasan yang ujungnya akan memperparah ejakulasi dini.
·                     Kebiasaan mencapai orgasme dan ejakulasi secara tergesa-gesa sebelumnya. Misalnya suka masturbasi atau onani dengan tergesa-gesa.
·                     Kurang berfungsinya serotonin, suatu bahan neurotransmitter yang berfungsi menghambat ejakulasi.
·                     Gangguan kontrol syaraf yang mengatur peristiwa ejakulasi (hipersensitivitas refleks ejakulasi). Laki-laki dengan disfungsi ereksi pada umumnya mengalami ejakulasi dini. Sebaliknya, laki-laki dengan ejakulasi dini pada akhirnya dapat mengalami disfungsi ereksi. (http://www.seksehat.info/kesehatan-reproduksi/mengenali-ejakulasi-dini-dan-cara-pengobatannya.html)
v    Resolusi
Tahap terakhir adalah ketika tubuh secara perlahan kembali ke tingkat fisiologis normal. Fase resolusi ditandai dengan relaksasi, keintiman,dan seringkali kelelahan. Sering kali perempuan tidak memerlukan fase resolusi sebelum kembali ke aktivitas seksual dan kemudian orgasme, sedangkan laki-laki memerlukan waktu pemulihan sebelum orgasme selanjutnya.

Kelainan Fungsi Testis
 Kriptokidismus
Testis terbentuk di dalam rongga abdomen dan secara normal bermigrasi ke skrotum selama masa perkembangan janin. Penurunan testis ke daerah inguinal dan penurunan dari daerah inguinal ke skrotum bergnatung pada faktor-faktor lain. Penurunan ini tidak sempurna pada satu atau, yang lebih jarang kedua testis pada 10% bayi laki-laki baru lahir, testis tetap berada di dalam ringga abdomen atau kanalis inguinalis. Namun, biasanya terjadi penurunan spontan testis, dan proporsi anak laki-laki yang testisnya tidak turun (kriptokidismus) turun menjadi 2% pada usia 1 tahun dan 0,3% setelah pubertas. Pemberian hormone gonadotropik mempercepat penurunan pada sebagain kasus, atau kelainan ini dapat diperbaiki secara bedah. Pengobatan harus dilakukan, sebaiknya sebelum pubertas, karena terdapat peningkatan insidens tumor ganas pada testis yang tidak turun dibandingkan dengan testis di skrotum dank arena setelah pubertas suhu di abdomen yang lebih tinggi akhirnya menyebabkan kerusakan ireversibel epitel spermatogenik. (Ganong, 1998: 425 – 426).
Hipogonadisme Pria
            Gamabaran klinis hipergonadisme pada pria bergantung pada apakah defisiensi testis terjadi sebelum atau setelah pubertas. Pada orang deasa, hal ini disebabkan oleh penyakit tetstis, maka kadar gonadotropin dalam darah meningkat (hipogonadisme hipergonadotropik), sementara bila sekunder disebabkan oleh penyakit pada hipofisis atau hipotalamus (misalnya sindrom Kallman), kadar gonadotropin dalam darah menurun (hipogonadisme hipogonadotropik). Bila fungsi endokrin testis menghilang pada masa dewasa, mka karakteristik seks sekunder menghilang secara bertahap karena untuk mempertahankan karakteristik-karakteristik tersebut, bila telah terbentuk, hanya diperlukan sedikit androgen. Pertumbuhan laring selama masa akil baligh bersifat permanen dan suara tetap berat. Pada pria yang dikastrasi pada masa dewasa mengalami kehilangan sebagian libido, wlaupun kemampuan berkopulasi menetap untuk beberapa waktu.
Mereka kadang-kadang mengalami hot flashes dan biasanya lebih mudah tersinggung, pasif, dan menderita depresi dibandingkan pria dengan testis utuh. Bila defisiensi sel Leydig berlangsung sejak masa anak-anak, maka gambaran klinisnya adalah eunukoidisme. Orang-orang eunokoid yang berusia di atas 20 tahun biasanya tinggi, walaupun tidak setinggi raksasa hiperpituarisme, karena epifisis tetap terbuka dan terjadi pertumbuhan melampaui usia pubertas. Mereka memiliki bahu sempit dan otot kecil, yaitu konfigurasi tubuh yang mirip dengan wanita dewasa. Genitalia kecil dan suara memiliki nada tinggi. Terdapat rambut pubis dan ketiak karena sekresi androgen adrenokorteks. Namun, rambut jarang, dan memiliki distribusi rambut pubis wanita yaitu “segitiga dengan dasar diatas”, bukan pola “segitiga dengan dasar di bawah” (escutcheon pria) seperti yang dijumpai pada pria normal. (Ganong, 1998: 426)

 Tumor Pensekresi androgen
Tidak dikenal adanya “hiperfungsi” testis tanpa pembentukan tumor. Tumor sel Leydig yang menghasilkan androgen jarang ditemukan dan menyebabkan gejala-gejala endokrin hanya pada anak laki-laki prapubertas, yang mengalami pseudopubertas prekoks. (Ganong, 1998:426)

Cara Menjaga Kebersihan Organ Kelamin Laki-laki
             Kulit daerah kemaluan harus dibersihkan dengan baik untuk mencegah infeksi. Infeksi area genital menyebabkan nyeri hebat dan rasa tidak nyaman. Bahkan tak jarang menyebabkan kesulitan intercourse selama ajang bercinta. Kalau sudah ada tanda-tanda ketidaknyamanan area genital, segeralah konsultasi ke dokter.
Sebenarnya, dibanding vagina, penis cenderung lebih tahan terhadap infeksi dan iritasi karena sebagian besar penis terlindungi oleh kulit yang cukup tebal. Kalaupun ada infeksi, laki-laki biasanya lebih mudah dan cepat tahu, karena biasanya ditandai dengan rasa sakit saat buang air kecil.
Kelenjar di sekitar ujung penis menghasilkan smegma, suatu zat berwarna putih dan agak lengket setiap harinya. Sekresi ini bila dikombinasikan dengan air seni, keringat, bakteri, dan air mani, akan mengakibatkan akumulasi bau yang sangat menggangu. Zat putih tersebut juga bisa menyebabkan infeksi yang biasanya ditandai dengan kulit kemerahan dan iritasi.
Untuk membersihkannya, tariklah kulup ke arah belakang, lalu cuci bersih permukaan kepala penis dan juga kulit serta lipatan-lipatannya. Berbagai cara menjaga higienitas daerah kemaluan (alat kelamin) untuk mencegah infeksi kelamin, di antaranya :




Hindari pula memakai celana dalam dan celana luar (misal celana jins) terlalu ketat. Selain membuat peredaran darah tidak lancar, penis dan testis juga akan kepanasan. Padahal panas berlebihan akibat suhu udara, keringat, dan pakaian yang terlalu ketat, akan menurunkan kualitas sperma sehingga menurunkan kemampuannya untuk membuahi sel telur.
Jadi sangatlah penting menjaga kebersihan Organ seksual (alat kelamin) anda, agar tidak terjangkit penyakit atau menimbulkan bau yang tidak mengenakan yang bisa membuat anda atau orang disekitar anda merasa tidak nyaman.



























 















 
 
 
  

0 komentar:

Posting Komentar